Warisan Termahal Orang Tua Bukan Harta, Melainkan Keshalehan yang Menjaga Anak hingga Akhir Zaman

Religi 30 Jul 2026 17:21 • 6 min read • 150 views • By admin

Share berita ini

Warisan Termahal Orang Tua Bukan Harta, Melainkan Keshalehan yang Menjaga Anak hingga Akhir Zaman
Assoc. Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A. saat menyampaikan ceramah mengenai pentingnya keshalehan orang tua sebagai warisan terbaik yang membawa keberkahan dan perlindungan Allah bagi anak cucu hingga generasi mendatang(Istimewa)

DUTA NUSANTARA NEWS, MEDAN - Di era modern saat ini, keberhasilan orang tua sering kali diukur dari seberapa besar harta yang mampu diwariskan, setinggi apa pendidikan yang diberikan kepada anak, atau sejauh mana mereka berhasil membangun kemapanan ekonomi keluarga.

‎

‎Tidak sedikit orang tua yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja demi memastikan masa depan anak-anaknya terjamin secara materi. Semua ikhtiar tersebut tentu merupakan bagian dari tanggung jawab yang mulia.

‎

‎Namun, Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa ada warisan yang nilainya jauh melampaui kekayaan, jabatan, maupun popularitas.

‎

‎Warisan itu adalah keshalehan. Inilah warisan yang tidak hanya mengiringi seseorang selama hidup di dunia, tetapi juga menjadi sebab turunnya keberkahan Allah kepada anak, cucu, bahkan keturunannya.

‎

‎Pelajaran agung ini diabadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kisah pertemuan Nabi Musa 'alaihissalam dengan Nabi Khidir 'alaihissalam pada Surah Al-Kahfi ayat 60–82.

‎

‎Kisah tersebut bukan sekadar sejarah, melainkan pendidikan akidah yang mengajarkan manusia agar memahami bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu tersimpan hikmah yang terkadang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia.

‎

‎Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam kisah itu adalah ketika Nabi Khidir membangun kembali sebuah tembok yang hampir roboh di sebuah negeri yang penduduknya dikenal enggan memuliakan tamu.

‎

‎Secara lahiriah, tindakan itu tampak tidak masuk akal. Mengapa membantu orang-orang yang baru saja menolak memberikan jamuan? Bahkan Nabi Musa pun mempertanyakannya.

‎

‎Namun setelah perjalanan itu berakhir, Nabi Khidir menjelaskan rahasia di balik perbuatannya.

‎

‎Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 82:

‎

‎"Adapun dinding itu adalah milik dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka. Sedangkan ayah mereka adalah seorang yang saleh."

‎

‎Kalimat ini sangat singkat, tetapi memiliki makna yang luar biasa. Allah tidak menyebut bahwa ayah kedua anak yatim itu seorang yang kaya raya.

‎

‎Tidak pula disebut sebagai pemimpin besar, pedagang sukses, atau tokoh yang disegani masyarakat.

‎

‎Yang Allah abadikan hanyalah satu sifat, "Wa Kāna Abūhumā Ṣāliḥā", yang berarti, "Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh."

‎

‎Seolah Allah ingin mengajarkan kepada seluruh orang tua bahwa ukuran kemuliaan di sisi-Nya bukanlah kekayaan, melainkan ketakwaan.

‎

‎Keberkahan Keshalehan Menjangkau Generasi

‎

‎Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa seorang hamba yang saleh akan memperoleh keberkahan yang tidak berhenti pada dirinya sendiri.

‎

‎Allah dapat menjaga anak-anaknya, melindungi keturunannya, bahkan mengangkat derajat mereka sebagai buah dari keshalehan orang tuanya.

‎

‎Diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa kedua anak yatim tersebut dijaga oleh Allah karena keshalehan ayah mereka.

‎

‎Bahkan dalam sebagian atsar disebutkan bahwa orang saleh tersebut adalah kakek mereka yang ketujuh.

‎

‎Walaupun riwayat ini diperselisihkan tingkat kekuatannya, para ulama menjadikannya sebagai isyarat tentang luasnya keberkahan amal saleh.

‎

‎Karena itu para ulama mengatakan, jika ketakwaan seorang leluhur saja dapat menghadirkan manfaat bagi keturunan hingga beberapa generasi, maka tentu keshalehan ayah dan ibu yang mendidik anak-anaknya secara langsung akan memberikan pengaruh yang jauh lebih besar.

‎

‎Inilah alasan mengapa Islam sangat menekankan pembinaan pribadi sebelum membina keluarga.

‎

‎Sebab anak-anak tidak hanya mewarisi harta dan nama keluarga, tetapi juga mewarisi nilai, akhlak, dan keberkahan doa dari orang tuanya.

‎

‎Ketika Musibah Ternyata Adalah Rahmat

‎

‎Kisah Nabi Khidir juga mengajarkan pelajaran lain yang tidak kalah penting.

‎

‎Tatkala Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil, Nabi Musa sangat terkejut. Secara kasat mata, perbuatan itu tampak sebagai kezaliman.

‎

‎Namun Allah kemudian menjelaskan bahwa anak tersebut, apabila dibiarkan hidup, kelak akan menjadi penyebab kedua orang tuanya terjerumus ke dalam kesesatan dan kekafiran.

‎

‎Karena kasih sayang-Nya, Allah mengganti anak tersebut dengan anak yang lebih baik, lebih suci, dan lebih penyayang kepada kedua orang tuanya.

‎

‎Peristiwa ini mengajarkan bahwa manusia hanya melihat hari ini, sedangkan Allah mengetahui masa depan.

‎

‎Kita sering kali menilai sesuatu berdasarkan perasaan sesaat, padahal Allah menilainya berdasarkan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.

‎

‎Oleh sebab itu Allah mengingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:

‎

‎"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

‎

‎Ayat ini menjadi penawar bagi setiap hati yang sedang diuji. Tidak semua kehilangan adalah keburukan.

‎

‎Tidak semua kegagalan adalah musibah. Tidak semua yang kita inginkan merupakan kebaikan bagi kehidupan kita.

‎

‎Keteladanan Lebih Berharga daripada Nasihat

‎

‎Di zaman sekarang, banyak orang tua rela mengeluarkan biaya besar demi pendidikan anak-anaknya.

‎

‎Hal itu tentu sangat baik. Namun sering kali kita lupa bahwa pendidikan pertama dan paling efektif adalah keteladanan.

‎

‎Anak-anak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.

‎

‎Mereka melihat bagaimana ayahnya menjaga salat, bagaimana ibunya menjaga kehormatan, bagaimana kedua orang tuanya berbicara dengan jujur, menghormati tetangga, mencintai Al-Qur'an, dan memuliakan ilmu.

‎

‎Rumah yang dipenuhi zikir akan melahirkan hati yang tenang. Rumah yang dipenuhi kejujuran akan melahirkan pribadi yang amanah. Rumah yang dipenuhi doa akan melahirkan generasi yang dekat dengan Allah.

‎

‎Karena itu, jangan hanya sibuk mewariskan rumah, tanah, kendaraan, atau tabungan. Wariskan pula iman, akhlak, ilmu, dan keteladanan. Sebab itulah bekal yang akan menyelamatkan anak-anak kita ketika kita telah tiada.

‎

‎Membangun Peradaban Dimulai dari Keluarga

‎

‎Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam dibangun oleh keluarga-keluarga yang saleh.

‎

‎Dari rumah Nabi Ibrahim lahir para nabi. Dari rumah Imran lahir Maryam yang mulia. Dari rumah-rumah para sahabat lahir generasi yang membawa cahaya Islam ke berbagai penjuru dunia.

‎

‎Maka, memperbaiki keluarga bukan hanya urusan pribadi, melainkan bagian dari membangun peradaban umat.

‎

‎Bangsa yang besar selalu diawali oleh keluarga yang kuat, dan keluarga yang kuat selalu dibangun di atas fondasi iman dan takwa.

‎

‎Penutup

‎

‎Sebagai orang tua, kita tentu berharap anak-anak menjadi pribadi yang sukses, sehat, dan bahagia.

‎

‎Namun, harapan terbesar seorang mukmin seharusnya bukan hanya melihat anak berhasil di dunia, melainkan juga melihat mereka tetap teguh dalam iman hingga akhir hayat.

‎

‎Mari kita jadikan kisah Nabi Khidir sebagai cermin kehidupan. Keshalehan yang kita bangun hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya.

‎

‎Akan tetapi, di sisi Allah tidak ada satu pun amal yang sia-sia. Boleh jadi, doa yang kita panjatkan di sepertiga malam, kejujuran dalam mencari nafkah, kesabaran dalam mendidik anak, serta keistiqamahan dalam beribadah menjadi sebab Allah menjaga anak-anak dan cucu-cucu kita ketika kita telah kembali kepada-Nya.

‎

‎Sesungguhnya warisan yang paling mahal bukanlah harta benda, melainkan ketakwaan.

‎

‎Harta bisa habis oleh zaman, jabatan dapat berakhir oleh masa, tetapi keshalehan akan terus mengalir menjadi cahaya yang menerangi kehidupan anak, cucu, bahkan generasi-generasi setelahnya.

‎

‎Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang meninggalkan jejak ketakwaan dan memperoleh keberkahan-Nya di dunia hingga akhirat. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.***(Sarifudin Sinaga)

‎

Duta Nusantara News