Belajar Menuntut Ilmu dari Imam Asy-Syafi'i: Menapaki Jalan Kemuliaan Dunia dan Akhirat

Religi 04 Aug 2026 20:43 • 3 min read • 126 views • By admin

Share berita ini

Belajar Menuntut Ilmu dari Imam Asy-Syafi'i: Menapaki Jalan Kemuliaan Dunia dan Akhirat
Oleh: Assoc.Prof. Dr. H. Usman Jakfar, Lc., M.A.

DUTA NUSANTARA - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, memperoleh ilmu pengetahuan menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan lahirnya generasi yang benar-benar berilmu. Banyak yang mampu mengakses informasi, tetapi belum tentu memahami, menghayati, apalagi mengamalkannya.

 

Karena itu, meneladani perjalanan hidup Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menjadi sangat penting. Beliau bukan hanya seorang ulama besar dan pendiri mazhab fikih yang diikuti jutaan umat Islam, tetapi juga sosok yang menunjukkan bahwa ilmu harus diperjuangkan dengan keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, dan adab.

 

Imam Asy-Syafi'i, yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i, lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriah dan wafat pada tahun 204 Hijriah. Beliau dikenal sebagai Nashirus Sunnah, pembela Sunnah Rasulullah ﷺ yang mewariskan pemikiran keislaman hingga terus menjadi rujukan umat Islam di berbagai belahan dunia.

 

Sejak usia dini, Imam Asy-Syafi'i telah menunjukkan kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu. Beliau menghafal Al-Qur'an pada usia tujuh tahun dan menghafal kitab Al-Muwaththa' karya Imam Malik pada usia sepuluh tahun. Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya menyerah. Ketika tidak mampu membeli kertas, beliau menulis pelajaran di atas pelepah kurma dan tulang-belulang.

 

Kisah tersebut mengajarkan bahwa kecintaan terhadap ilmu selalu lahir dari niat yang benar. Ketika seseorang belajar karena Allah SWT, keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan ujian yang akan menguatkan tekadnya.

 

Perjalanan Imam Asy-Syafi'i juga memperlihatkan bahwa ilmu membutuhkan pengorbanan. Ibunya rela menjual harta yang dimiliki agar putranya dapat belajar kepada Imam Malik di Madinah. Beliau sendiri bekerja keras demi membeli kitab dan memenuhi kebutuhan hidupnya selama menuntut ilmu.

 

Imam Asy-Syafi'i pernah berkata, "Tidak akan memperoleh ilmu orang yang malu dan orang yang sombong." Pesan ini mengingatkan bahwa ilmu hanya akan mendatangi orang yang rendah hati, mau bertanya, bersungguh-sungguh, dan tidak merasa dirinya paling mengetahui.

 

Selain itu, beliau rela menempuh perjalanan jauh untuk berguru kepada para ulama besar. Tradisi mencari guru menunjukkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya diperoleh dari membaca buku, tetapi juga melalui adab kepada para pewaris ilmu.

 

Keistimewaan Imam Asy-Syafi'i bukan hanya pada kekuatan hafalannya. Beliau mampu memadukan hafalan, pemahaman, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ilmu yang sejati bukan sekadar memenuhi akal, tetapi juga menerangi hati dan membentuk akhlak.

 

Sebagai seorang mujtahid, Imam Asy-Syafi'i juga mengajarkan pentingnya berpikir berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah dengan metodologi yang benar. Beliau menyusun kitab Ar-Risalah, yang menjadi fondasi ilmu Ushul Fikih, sekaligus menunjukkan bahwa Islam selalu memiliki jawaban terhadap persoalan zaman tanpa meninggalkan dalil dan adab.

 

Meski telah menjadi imam besar, beliau tetap dikenal sangat tawadhu'. Ketika ditanya tentang gurunya, Imam Malik, beliau merendahkan dirinya dan mengakui bahwa ilmu yang dimilikinya hanyalah setetes dari lautan ilmu sang guru. Inilah akhlak seorang alim yang semakin tinggi ilmunya, semakin rendah pula hatinya.

 

Imam Asy-Syafi'i juga memberi teladan dalam menghargai waktu. Hari-harinya dipenuhi dengan belajar, mengajar, beribadah, dan menulis karya ilmiah yang hingga kini masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam.

 

Di penghujung hidupnya, beliau meninggalkan sebuah pesan yang sangat berharga, "Apabila kalian menemukan dalam pendapatku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, maka tinggalkan pendapatku." Pesan ini menunjukkan bahwa seorang ulama sejati selalu menempatkan kebenaran di atas pendapat pribadinya.

 

Pada akhirnya, perjalanan hidup Imam Asy-Syafi'i mengajarkan bahwa ilmu bukanlah jalan menuju popularitas atau kemuliaan dunia semata, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan manfaat bagi sesama. Ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang melahirkan amal, membentuk akhlak, serta mengantarkan pemiliknya kepada ketakwaan.

 

Semoga semangat Imam Asy-Syafi'i dalam mencintai ilmu, memuliakan guru, menjaga adab, serta mengamalkan setiap pengetahuan yang dimiliki dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menapaki jalan sebagai pencari ilmu hingga akhir hayat.***(Sarifudin Sinaga)

Duta Nusantara News